Tampilkan postingan dengan label Pengembaraan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengembaraan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Oktober 2013

Pondok Tertua di Solo


Solo adalah salah satu kota di pulau Jawa yang masih kental nuansa Jawanya. Disamping ditemukannya jejak-jejak akan kebesaran masa lampau kota ini juga memegang peranan penting dalam menyebarkan agama islam. Di kota yang terkenal dengan sebutan kota bengawan ini tersiar kabar bahwa ada sebuah pondok tua yang hingga kini masih terus mencetak generasi islam yang berkualitas. Dan pondok itu disebut juga sebagai pondok tertua di Pulau Jawa. Benarkah demikian? Berikut laporannya

Pondok Pesantren yang bernama Pondok Jamsaren itu berada di jalan Veteran No. 263 Serengan Solo. Mengenai adanya sebutan bahwa pondok ini merupakan pondok tertua di tanah Jawa barangkali memang ada benarnya. Pasalnya menurut catatan sejarah Pondok ini didirikan pada masa Paku Buwono IV atau tepatnya pada tahun 1750 Masehi.
Pada awalnya pondok pesantren yang didirikan pada masa pemerintahan Paku Buana IV ini merupakan surau kecil. Pada waktu itu Sinuhun Paku Buana IV mendatangkan beberapa ulama besar pada masanya seperti Kyai Jamsari dari Banyumas, Kyai Hasan Gabudan dan beberapa Kyai besar lainnya. Pengambilan nama Jamsaren yang melekat pada pondok ini diambil dari tempat tinggal Kyai Jamsari pada masa dulu. Dan hingga sekarang nama Jamsaren tersebut tetap dibiarkan melekat pada nama pondok agar sejarah bagaimana pondok ini berdiri tetap terjaga.
Sejarah mencatat bahwa pendirian  pondok ini tidak bisa lepas dari peran Sinuhun Paku Buana IV yang ingin memasukkan nilai-nilai islam dalam kebudayaan masyarakat Solo yang pada waktu itu masih kental akan nilai Hindu-Budha serta animisme dan dinamisme. Untuk memasukkan nilai-nilai agama islam pada masyarakat Solo maka dipanggilah Kyai Jamsari dari Banyumas untuk menyebarkan agama islam di wilayah Solo. untuk menjalankan amanat dari sng raja lalu Kyai Jamsari mendirikan sebuah surau dan mengajarkan agama islam kepada seluruh lapisan masyarakat. baik itu masyarakat umum, kalangan pejabat, bahkan hingga kalangan bangsawan istana.
Dalam perjalanannya dari awal berdiri hingga sekitar tahun 1800 pondok ini berjalan sebagaimana mestinya. Pada awalnya lokasi pondok hanyalah berupa surau kecil yang berada di dekat rumah kyai Jamsari. Namun karena banyak santri yang merasa cocok dengan ajaran yang dibawa oleh sang kyai lalu banyak pendatang yang mendirikan rumah disekitar surau tersebut. Sehingga pada akhirya terbentuklah sebuah perkampungan. Perkampungan tersebut lalu dinamai dengan nama “Jamsaren” yang memiliki arti tempat tinggal Kyai Jamsari.
Setelah Kyai Jamsari wafat, tampuk kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh Kyai Jamsari II, anak kandungnya. Pada masa pengasuhan Kyai Jamsari II ini bersamaan dengan pergolakan besar di tanah Jawa yang disebabkan pemberontakan Diponegoro terhadap bangsa Belanda. Pangeran Diponegoro yang memiliki nama asli Raden Mas Ontowiryo merupakan seorang putra dari Sultan Hamengkubuwono III yang berasal dari keraton Yogyakarta. Perang yang digelorakan oleh Pangeran Diponegoro dsebut-sebut merupakan salah satu perang yang terbesar yang pernah terjadi diatas tanah jawa maka tak heran apabila ada sebagian orang yang menyebutkan bahwa perang yang digelorakan oleh Pangeran Diponegoro ini juga disebut sebagai Perang Jawa.
Meskipun tidak ada dukungan secara resmi dari pihak keraton, namun sejumlah kerabat sang pangeran dari Keraton Yogyakarta turut membantu perjuangan Diponegoro. Sedangkan Keraton Surakarta di bawah Susuhunan Paku Buwono VI secara resmi memberikan dukungan dana dan pasukan.
Sedangkan kekuatan paling menentukan pada perjuangan Diponegoro adalah dukungan massif para Kyai dari berbagai daerah. Mereka yang memberikan perlindungan dan bantuan bala pasukan di berbagai daerah medan pertempuran. Salah satu pendukung utama Diponegoro dari kalangan ulama adalah Kyai Jamsari II dari Solo, selain nama-nama ulama terkenal lain seperti Kyai Mojo (Solo), Kyai Yahudo (Magelang), Kyai Imam Rozi (Klaten) dan lain-lainnya.
Setelah perang Diponegoro berhasil dipadamkan, Belanda melakukan penangkapan dan pengasingan terhadap para tokoh pemberontakan. Diponegoro diasingkan ke Sulawesi Selatan, Paku Buwono VI diasingkan ke Ambon, Sentot Prawirodirjo diasingkan ke Sumatera Selatan, Kyai Mojo dan sejumlah Kyai lainnya yang tertangkap diasingkan ke Tondano, Sulawesi Utara.
Ketika perang yang digelorakan oleh Pangeran Diponegoro berhasil dipadamkan oleh pihak Belanda. Banyak Kyai yang diburu dan ditangkapi selain itu  banyak pula pesantren yang di bumi hanguskan karena tuduhan menyembunyikan ekstrimis, sebutan untuk para pendukung Diponegoro. Dalam kondisi itulah Kyai Jamsari II beserta keluarga dan seluruh santrinya memutuskan untuk meninggalkan pesantren, tanpa diketahui secara pasti dimana tempat mereka bermukim setelahnya. Bahkan hingga saat ini tidak diketahui pasti dimana makam Kyai Jamsari II.
"Tidak ada informasi mamadai kemana larinya. Namun beberapa tahun terakhir kami mendapatkan kunjungan dari Kediri yang memberi tahu bahwa Kyai Jamsari II lari diri ke Kediri lalu tinggal dan wafat disana. Di Kecamatan Pesantren, Kediri ada desa bernama Jamsaren," ujar Mufti Addin, lurah Ponpes Jamsaren.
Kompleks dan bangunan pesantren itu kemudian kosong dan terbengkalai hampir selama 50 tahun, hingga akhirnya seorang ulama dari Klaten yang mengurusnya. Ulama itu adalah Kyai Idris, salah seorang keturunan dari Kyai Imam Rozi yang merupakan sahabat akrab Kyai Jamsari II.
Setelah mengalami kekosongan hampir selama 50 tahun atau tepatnya sejak tahun 1878, Kyai Idris kembali membangun dan mengembangkan Pesantren Jamsaren. Saat ditemukan konddisi pondok dalam keadaan kosong. Melihat hal tersebut lalu beliau berusaha membangun kembali Pondok Pesantren serta mengembangkan ajaran islam di daerah Surakarta.
Hal pertama yang dilakukan beliau adalah mendirikan mushola dilingkari rumah pondok dari bambu. Kyai menyelenggarakan pengajian dengan  mengajarkan kitab-kitab Al-islam yang berahasa Arab dan telah di terjemahkan dalam bahasa Jawa pegon. Kitab-kitab yang diajarkan oleh sang kyai mulai kitab jurumiyah, sampai alfiyah dan sarah ibnu aqil. Dalam ilmu sorof mula kitab Bina’ sampai maraqul arawah dan kitab syafiyah. Adapun cara mengajarnya dilakukan dengan menggunakan sistem sorogan dan juga blandhongan.
Di bawah kepemimpinan Kyai Idris inilah Pondok Jamsaren mulai memasuki era keemasan. Hal ini dikarenakan pada masa kepemimpinannyalah pondok ini menjadi sebuah tempat yang menjadi rujukan pesantren di tanah air. Bukan itu saja ribuan santri dari luar negeri dan dari berbagai penjuru Asia Tenggara berguru untuk menimba ilmu di pesantren yang dipimpin oleh Kyai yang terkenal sangat alim dan juga merupakan seorang mursyid Thariqah Sadziliyah tersebut.
Nama-nama Kyai besar yang ada ditanah jawa pun tercatat pernah menimba ilmu di pesantren Di antara nama-nama besar yang pernah nyantri di Pesantren Jamsaren. Para Kyai tersebut adalah Kyai Mansyur (pendiri Ponpes Al-Mansyur Klaten), Kyai Dimyati (pendiri Ponpes Termas, Pacitan), Syeich Ahmad al-Hadi (tokoh Islam kenamaan di Bali), Kyai Arwani Amin (Kudus), Kyai Abdul Hadi Zahid (pengasuh Ponpes Langitan, Tuban).
Sekitar tahun 1908 mushola pondok pesantren diganti dengan bangunan masjid dimana hal ini masih berlangsung sampai sekarang. Dan pada tahun 1913 sistem sorogan diganti menjadi sistim kelas dimana masing-masing kelas dibimbing oleh oleh seorang Qori’/Mualim. Bersamaan itu pula Sunan Paku Buana X mendirikan Madrasah Mamba’ul Ulum. Madrasah ini didirikan di samping masjid agung Surakarta.
Tahun 1923 M, Kyai H.Idris wafat dan dimakamkan di pajang Makam Haji.dan diganti oleh KH. Abu Amar beliau diberi gelar Kyai Jamsari (Kyai Ngabei projowijoto). Ketika dibawah kepimpinan sang kyai baik di Surakarta maupun Indoesia mengalami banyak peristiwa pergolakan. Akan tetapi baik Madrasah Mamb’ul Ulum dan Pondok Jamsaren tetap teguh mencetak kader-kader yang cakap dalam menghadapi tantangan jaman. Baik itu pula saat terjadi penjajahan Jepang. Dua lembaga yang berada di kota Solo ini berperan penting dalam menggembleng angkatan Hisbullah dan Sabilillah yang merupakan barisan depan dalam mempertahankan kedaulatan tanah air dan Republik Indonesia. Para santri pondok pesantren dalam perjuangannya menempuh jalan geriliya dan cara ini dilakukan hingga berakhirnya masa pendudukan Belanda di Indonesia.
Masa kepemimpinan KH. Abu Amar berlangsung hingga tahun 1965, setelah sang kyai wafat lalu kepemimpinan pondok diteruskan oleh putranya yakni KH. Ali Darokah. KH Ali Darokah memimpin pondok dari tahu 1965 hingga tahun 1997. Dalam memimpin pondok pada kisaran tahun ini KH Ali Darokah dibantu oleh beberapa pengurus pondok. Dimana para pengurus pondok tersebut terdiri atas Lurah Pondok, Sekeraris, Wali Santri Pondok, Staf Pengajar, Staf Keamanan dan Taf’adah.
Pada awal juli tahun 1997 mendung kelabu kembali memayungi Pondok jamsaren. Pasalnya pada tanggal 8 Juli 1997 sang kyai telah berpulang kerahmatullah. Sang Kyai lalu dimakamkan di Pajang. Sepeninggal sang kyai kepengurusan pondok diserahkan kepada pengurus harian pondok dan pengurus pelaksana harian pondok.
Pada periode ini selain pengajian sistem kela dengan materi pelajaran agama juga diberi materi pelajaran umum untuk menunjang prestai santri.Tahun pertama santri diwajibkan untuk menghapal juz Amma sebagai salah satu bekal santri dalam kehidupan bermasyarakat kelak. Tahun berikutnya santri diwajibkan menghapal Al-qur'an juz 29,28 dan begitu seterunya hingga khatam 30 juz.
Sedang pengajian umum pada pagi hari diteruskan oleh Drs.Mohctar Salimi, M . Ag. Sebagai salah satu institusi pendidikan yang telah ditempa oleh perubahan zaman selama berpuluh-puluh tahun, maka dalam mensikapi dunia pendidikan pada dekade ini. Pondok Pesantren Jamsaren menaarkan suatu alternatif istem pendidikan dimana disatu sisi santri digembleng dengan pengetahuanpendidikan agama islam di pesantren, disisi lain santri menuntut ilmu pengetahuan umum di sekolah formal dengan harapan agar kelak menjadi profesional muda yang berjiwa Ulama, Mubaligh, Mujahid dan pemimpin yang berguna bagi bangsa, agama dan negara.
AJARKAN KITAB BERBAHASA JAWA DAN BANYAK LAHIRKAN TOKOH PENTING
Menurut Lurah Ponpes Jamsaren H Mufti Addin beberapa nama besar pernah lahir dari pondok Jamsaren, di antaranya Munawir Sadzali (mantan Menteri Agama RI), Prof Dr Amien Rais (mantan Ke tua MPR dan mantan Ketua PP Muhammadiyah) dan Miftah Farid (Ketua MUI Jabar). “Materi yang diajarkan di Jamsaren adalah kitab-kitab Al Islam berbahasa Arab dan diterjemahkan dengan bahasa Jawa Pegon (bahasa yang disesuaikan dengan susunan bahasa Arab), seperti Nahwu Shorof, Tajwid, Qiroah, Tafsir, Fiqh, Hadits, Mantiq, Tarikh dan Dmu Tasawwuf,” ujamya.
Metode pengajaran pun dengan cara sorogan (maju satu per satu), sebagian yang lain dengan cara wekton atau blandongan (cara berkelompok), masing-masing membawa kitab sendiri. “Belakangan ini sistem pengajian sorogan diganti dengan sistem kelas,” paparnya.

Para santri Jamsaren tidak hanya datang dari Solo dan daerah sekitarnya, tetapi juga datang dari daerah lain di Pulau Jawa, seperti Semarang, Banten, Jombang, dan Mojokerto Dalam perkembangannya, Ponpes Jamsaren kemudian bekeija sama dengan Yayasan Perguruan Al Islam Solo.

Kini, sebagian besar santrinya adalah siswa SMP dan SMA Al Islam Solo. Ada beberapa aturan ketat yang harus ditaati para santri yang semuanya laki-laki itu, di antaranya tidak boleh merokok dan wajib menaati jam wajib belajar selepas salat Isya hingga pukul 22.30. Pada waktu itu, masing-masing belajar khusus untuk mengulang pelajaran di sekolah. Di antara nama-nama besar yang pernah nyantri Kiai Idris adalah Kiai Mansyur (pendiri Ponpes Al-Mansyur Klaten), Kiai Dimyati (pendiri Ponpes Termas, Pacitan), Syeich Ahmad al-Hadi (tokoh Islam kenamaan di Bali), Kiai Arwani Amin (Kudus), Kiai Abdul Hadi Zahid (pengasuh Ponpes Langitan).

Bahkan setelah Kiai Idris wafat pada tahun 1923, nama besar Jamsaren masih menjadi rujukan bagi para orangtua untuk mengirim anaknya nyantri. Banyak tokoh besar tanah air merupakan lulusan atau pernah belajar agama secara intens di Jamsaren generasi berikutnya. Sebut saja misalnya Munawir Sadzali (mantan Menag), Amien Rais (mantan Ketua MPR), KH Zarkasyi (pendiri Ponpes Gontor), KH Hasan Ubaidah (pendiri dan pimpinan LDII) serta sejumlah nama lainnya. Jamsaren, sebuah pesantren kuno yang telah menyemai tumbuhnya banyak tokoh di negri ini.

Tokoh sentral yang terakhir memimpin pesantren ini adalah KH Ali Darokah. Setelah KH Ali Darokah wafat tahun 1997, Jamsaren dipimpin oleh sebuah dewan sesepuh. Sedangkan sebagai pelaksana keputusan, semua kegiatan dipimpin Mufti Addin selaku lurah pondok. Salah satu jejak besar Jamsaren saat ini adalah Yayasan Pendidikan Al-Islam yang didirikan tahun 1926 oleh para alumni dan pengasuh Jamsaren. Lembaga pendidikan ini telah berkembang luas sebagai sekolah favorit di Jawa tengah dan Jawa Timur dari tingkat TK/RA hingga SMA/MA.

Sedangkan santri mukim di Jamsaren saat ini sekitar 120 santri putra dengan prioritas program tahfidul Qur'an. "Mereka santri mukim disini. Pagi hari akan mengikuti sekolah formal di Al-Islam lalu siang hingga malam tinggal di Jamsaren," ujar Mufti. Untuk mengisi kegiatan pada bulan ramadhan, kata Mufti, setiap tahun Jamsaren selalu mengadakan pesantren kilat untuk anak-anak usia kelas 3 SD hingga 2 SMP. Selain itu setiap bulan ramadhan juga akan digelar pengajian akbar dengan menghadirkan mubaligh dari berbagai kota. Pilihan Jamsaren tidak bergabung ke ormas keagamaan manapun justru memudahkan pesantren ini menjalin hubungan dengan tokoh dan ormas manapun.

Ada keunikan tersendiri apabila mendatangi pondok pesantren yang tercatat sebagai pondok pesantren yang tertua di pulau Jawa ini. Keunikan tersebut adalah terdapatnya sebuah bangunan masjid yang usianya telah ratusan tahun dan merupakan saksi bisu atas perjalanan pondok ini dari waktu ke waktu. Keunikan tersebut terlihat pada sebuah masjid yang terdapat dalam kompleks pesantren pada masjid tersebut terlihat kerangka atap penyangga masjid yang terbuat dari kayu jati. Kerangka atap tersebut merupakan peninggalan asli dari Pondok Pesantren Jamsaren. Pondok ini telah berdiri sejak era Paku Buana IV dan hingga kini masjid tersebut masih berdiri dengan tegaknya.

Selain itu ada beberapa bangunan lain yang masih dipertahankan keasliannya, salah satu dari bangunan tersebut adalah rumah kediaman atau ndalem kiai yang saat ini ditempati oleh Nyai Siti Aminah Ali Darokah dan bangunan rumah di depannya yang kini dimanfaatkan sebagai gedung raudatul athfal (RA) atau taman kanak-kanak.

"Pada bangunan tersebut yang asli sejak didirikan adalah kayu-kayu penyangga utama bangunannya. Sedangkan dinding tembok adalah renovasi dari jaman ke jaman. Bangunan masjid juga telah ditinggikan. Sedangkan dinding dalam bangunan kediaman kiai juga masih kami pertahankan," ujar H. Mufti selaku lurah pesantren.

Jelajah Goa Song Gentong




Beberapa waktu lalu di Tulungagung tersiar kabar bahwa di Kabupaten yang terkenal akan batu marmernya ini kembali ditemukan sebuah fosil manusia purba yang dipercaya sebagai fosil dari Homo Wajakensis. Berdasarkan informasi fosil tersebut diperkirakan berasal dari 40.000 tahun yang lalu Sebagaimana yang telah diketahui wlayah Tulungagung selatan merupakan pegunungan kapur yang terdapat banyak sekali gua-gua kecil, dan di gua itulah dimungkinkan para manusia purba itu tinggal. Benarkah demikian? Berikut jelajah Pendekar Patah Hati

 

Menurut informasi yang berhasil disaring oleh Pendekar Patah Hati tempat penemuan fosil manusia purba tersebut berada di sebuah goa yang bernama goa song gentong. Goa tersebut berada di kawasan Besole Campurdarat. Letak Campurdarat ini berjarak kurang lebih 20 km dari pusat kota. Untuk mencapai lokasi goa ini memang tidaklah mudah sebab tidak ada penunjuk arah yang menunjukkan dengan pasti lokasi tersebut.

Beruntung jelajah Pendekar Patah Hati kali ini ditemani dengan sebuah lembaga yang memilik perhatian terhadp peninggalan berupa fosil-fosil yang tersebar di beberapa wilayah di Jawa Timur. Saat itu Pendekar Patah Hati berangkat sekitar pukul 08.00 pagi. Saat itu rupanya langit sedang tidak bersahabat sebab sejak matahari membuka mata langit terus menerus dipenuhi dengan mendung.

Meski pun langit medung namun semangat Pendekar Patah Hati masih tetap terjaga dengan sangat baik. Sedikit demi sedikit langt telah mencurahkan airnya untuk menyirami bumi. Akan tetapi untungnya hujan tersebut tak mengganggu niatan Pendekar Patah Hati untuk menemukan lokasi dimana ditemukannya fosil-fosil yang diperkirakan telah berusia ribuan tahun yang lalu tersebut.

Ketika berusaha menemukan lokasi berkali-kali Pendekar Patah Hati harus bertanya kepada penduduk sebab lokasi dimana ditemukan fosil tersebut memang tidak ada petunuk sama sekali. Informasi yang diterima lokasi goa tersebut berada dibelakang pabrik marmer. Dan tak menunggu lama lokasi tersebut langsung dituju. Dalam bayangan Pendekar Patah Hati jalan yang untuk menuju lokasi sudah tertata dengan rapi sehingga untuk menjangkau goa tersebut tidaklah sulit.

Namun, ketika samapai dibelakang pabrik marmer bayangan itu hilang sama sekali karena jalanan untuk mencapai goa sangatlah sulit. Apalagi hujan yang mengguyur Tulungagung bagian selatan sejak kemarin membuat jalanan kian menantang untuk ditaklukakkan. Dan karena sulitnya medan akhirnya Pendekar Patah Hati pun menyerah dan dipaksa berjalan kaki untuk menuju lokasi.

Setelah berjalan kaki selama hampir lima belas menit akhirnya Pendekar Patah Hati pun samapi ditempat tujuan. Akan tetapi keadaan goa sangatlah berbeda dengan apa yang ada dibenak Pendekar Patah Hati. Sebab goa yang dimaksud sebagian besar telah runtuh karena adanya aktivitas penambangan marmer. Hanya tinggal sebuah goa saja yang tersisa dan hanya menyisakan sebuah goa itupun tidak terlalu dalam. Dalam gua hanyalah beberapa meter saja dan jika dilihat memang gua tersebut mirip dengan goa tinggal. Sekiat goa masih terlihat dengan jelas sisa-sisa penambangan marmer serta bekas eskavasi yang dilakukan oleh tim dari UGM beberapa waktu yang lalu.

Untuk memastikan kabar yang diterima bahwa di lokasi tersebut memang banyak terdapat fosil yang diperkirakan berasal dari zaman prasejarah. Pendekar Patah Hati melakukan pencarian di beberapa tempat sekitar goa song gentong. Alhasil apa yang diicaripun akhrnya dapat juga, di beberapa tempat sekitar goa banyak sekali terdpay fosil-fosil baik itu maupun tumbuhan. Fosil sendiri merupakan sisa-sisa tumbuhan, binatang, mapun manusia yang berasal dari masa silam yang telah terawetkan.

Kebanyakan fosil yang ditemukan disekitar goa adalah fosil dari binatang laut utamanya kerang. Hal ini selain dimungkinkan bahwa kerang-kerang tersebut merupakan makanan dari manusia purba jenis Homo Wajakensis juga dimungkinkan pula binatang tersebut berasal tidak jauh dari wilayah tersebut.

Memang terdengar aneh sebab wilayah tersebut adalah daerah pegunungan gamping sehingga tidaklah mungkin ada binatang laut ataupun air yang mampu hidup di daerah tersebut. Untuk menjawab pertanyaan ini tentunya tidaklah dapat mengesampingkan bagaimana wajah Tulungagung tempo dulu.

Pada zaman dahulu Tulungagung merupakan sebuah daerah yang kerapkali dilanda banjir, bahkan sebelum berganti nama menjadi Tulungagung nama kabupaten yang berbatasan langsung dengan samudra hindia ini bernama Ngrawa karena sebagian wilayahnya masih berupa rawa-rawa yang teramat luas.

Salah satu rawa yang terkenal di Tulungagung adalah Rawa Pening, konon wilayah rawa pening ini berada tidak jauh dari goa song gentong. Bicara tentang rawa pening tentunya tidak terlepas dengan pusaka Kabupaten Tulungagung yang bernama Tombak Kyai Upas. Berdasarkan legenda yang ada dimasyarakat Tulungagung terjadinya Rawa Pening ini disebabkan karena ada seorang anak kecil yang merupakan jelmaan dari naga baru klinthing yang telah dipotong lidahnya oleh ayahnya. Anak kecil tersebut mengadakan sayembara berupa barang siapa yang mampu mencabut lidi yang ditancapkan di tanah.

Sebenarnya sayembara tersebut diadakan oleh si anak kecil yang merupakan jelmaan dari Naga Baru Klinthing tadi merasa jengkel karena ulah warga sekitar  tidak ada yang mau memberinya makan. Dari sekian banyak warga yang mau memberinya bantuan berupa makanan hanyalah seorang nenek-nenek.

Setelah selesai menghabiskan makanan yang diberikn oleh nenek-nenek tersebut si bocah kecil tadi berpesan agar nenek tersebut menyediakan lesung dan entong kayu jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Mendengar permintaan anak kecil tersebut sebenarnya nenek tua itu merasa bingung karena untuk apa lesung dan entong kayu itu sebab pada waktu itu masih musium kemarau. Namun karen menuruti apa kata hatinya nenek tersebut akhirnya menyiapkan apa saja yang diminta oleh anak kecil tadi.

Sesudah mewanti-wanti nenek yang membantunya tadi si anak jelmaan dari baru Klinting tadi bergegas ke lapagan desa untuk memberi pelajaran warga desa yang sombong dan tidak peduli terhadap orang lain. Saat dilapangan tadi anak kecil tadi menancapkan sebatang lidi dan berujar barang siapa yang mampu mencabut lidi tersebut maka dia boleh mengambil nyawanya namun apabila orang yang bersangkutan tidak mampu mencabut lidi maka orang tersebut haruslah memberikan makanan kepadanya. Akhirnya makanan kian menumpuk banyak karena tidak ada satupun yang mampu mencabutnya. Karena melihat banyak kegagalan wargapun merasa marah dan meminta kepada anak kecil tadi untuk mencabut lidi tersebut.

Sebenarnya sebelum mencabut lidi tersebut anak kecil tadi telah berkata bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk apabila dia mencabut lidi tersebut. Namun karena amarah telah merasuk di hati para warga maka tidak ada alan lain bagi dia selain mencabut lidi tersebut. Ketika lidi tercabut muncullah air mancur yang kian lama kian membesar dan tempat dimana lidi tadi ditancapkan terendam air yang kian lama kian membesar dan dalam.

Karena tidak memiliki persiapan yang cukup akan datangnya banjir maka seluruh warga desa tadi meninggal karena tenggelam. Namun dari kesekian banyak penduduk desa tadi yang selamat hanyalah nenek tua yang membantu si baru klinting tadi. Nenek tersebut selamat karena menggunakan lesung dan entong kayu seperti apa yang dikatakan oleh baru klinting tadi.

Sayangnya Rawa Pening tadi semenjak awal tahun 1990-an suah berangsur-angsur mengering dan hingga sekarang rawa pening tadi telah hilang sama sekali. Hilangnya rawa pening ini disebabkan oleh dibangunnya waduk wonorejo yang menampung aliran air dari sungai brantas serta dibukanya terowongan niyama buatan jepang yang mengalirkan air dari rawa-rawa yang ada diwilayah Tulungagung ke laut selatan. Tentu saja tujuan dari pembangunan waduk dan pembukaan rawa pening ini karena ingin membebaskan wilayah Tulungagung dari bencana banjir yang datang setiap tahun. Dan semenjak diresmikannya waduk dan terowongan ini Kota Tulungagung berhasil terbebas dari banjir.

Menilik dari namanya memang benar bahwa Homo Wajakensis merupakan sebuah fosil manusia purba yang ditemukan di wilayah Wajak. Akan tetapi wajak yang dimaksud bukanlah merupakan desa wajak seperti yang ada pada saat ini. Melainkan nama sebuah distrik jaman Belanda yang wilayahnya meliputi daerah di wilayah Tulungagung Selatan. Fosil Homo Wajakensis ini sendiri pertama kali ditemukan oleh Eugene Dubois yang merupakan seorang dokter mliter Belanda pada kisaran tahun 1899.
Bukti bahwa penemuan fosil manusia purba ini tidaklah di Desa Wajak dibuktikan dengan adanya sebuah tugu peringatan yang dibangun di daerah Desa Gamping Kecamatan Campurdarat. Tugu yang diatasnya terdapat tengkorak manusia purba tersebut dibangun dengan tujuan untuk dibangun sebagai tugu peringatan simbolisasi penemuan manusia purba homosapiens yang ditemukan oleh Eugene Dubois. Monumen merupakan simbolisasi apa yang pernah terjadi pada waktu lalu, yakni di Tulungagung pernah ditemukan fosil manusia purba bernama Wajakensis.
Meskipun demikian wilayah tempat ditemukannya fosil manusia purba untuk pertama kali tersebut memang masuk distrik Wajak. Sebagaimana hal ini tentu saja tidak dapat terlepas dari adanya penbagian daerah menurut distrik-distrik yang sangat terkenal sewaktu pendudukan Belanda. Maka, karena ada pembagian distrik itulah meski tempat ditemukannya fosil itu berada di desa Gamping fosil temuan itu tetap dinamakan Homo Wajakensis karena tempat penemuannya berada di wilayah distrik Wajak.
Pada badan monumen tersebut terdapat sebuah relief yang menggambarkan Dubois sedang duduk diebuah kursi dan di depan Dubois tergambar kehidupan manusia jaman prasejarah. Sayangnya goa tempat penemuan tadi seakan telah hilang ditelan kehidupan modern. Wajah Tulungagung saat pertama kali diketemukan fosil-fosil tersebut tentunya sangat berbeda dengan wajah Tulungagung saat ini. Ketika fosil tersebut ditemukan di wilayah Tulungagung masih banyak ditemukan rawa-rawa sedang pada masa sekarang rawa-rawa yang dahulu pernah menggenangi Tulungagung ini telah kering. Hal ini dikarenakan air yang mengisi rawa-rawa tersebut telah dialirkan seluruhnya ke laut Selatan melalui terowongan Niyama.
Menurut keterangan Edi Wiyono selaku Kasi Museum dan Purbakala menjelaskan bahwa manusia purba yang berasal dari distrik wajak dan ditemukan pertama kali oleh Dokter Militer Belada yang bernama Eugene Dubois itu merupakan tahapan manusia purba yang hampir mencapai tahapan sempurna dalam evolusinya. Gampangnya manusia purba jenis Wajakensis ini telah mencapai tahapan Homo Sapiens atau manusia sempurna. Ini dibuktikan dengan volume otaknya yang telah sama besarnya dengan volume manusia modern. Dan dilain hal manusia purba yang berasal dari selatan Tulungagung ini mampu menggunakan alat dalam berburunya. Sedangkan makanan yang mereka makan telah dimasak walau sangat sederhana.
Mengenai makanannya terdiri atas binatang-binatang mamalia kecil, ubi-ubian, dan kerang-kerangan. Mengenai hal makanan dari Homo Wajakensis ini banyak ditemukan di sekitar goa song gentong. Di goa tersebut banyak terdapat serpihan-serpihan sampah dapur berupa kerang dan ubi-ubian. Semua sampah-sampah dapur tersebut telah memfosil dengan sangat sempurna. Perubahan menjadi fosil ini tentunya tidak terlepas dari lingkungan sekitar goa yang banyak sekali mengandung kapur.
Jika melihat posisi goa song gentong dapat dikatakan bahwa manusia purba yang berasal dari Tulungagung yang kerap dsebut dengan Homo Wajakensis ini menjadikan goa-goa sebagai tempat tinggalnya. Di samping itu pula di dekat goa ini dimungkinkan berupa rawa purba ataupun sungai purba hal ini dikarenakan banyaknya sampah berupa kerang yang dapat ditemukan di lokasi.
Adanya anggapan ini memanglah bukanlah tanpa dasar akan tetapi perlu diingat bahwa manusia purba kerap kali tinggal di dekat sumber air guna mempermudah usaha mereka dalam mencari makan. Kemudian jika ditarik garis hubungan antara goa dan sumber mata air maka dapat disimpulkan bahwa di sekitar goa Song Gentong ini terdapat sumber air yang melimpah sehingga manusia purba tersebut menjadikan goa Song Gentong Menjadi rumah tinggalnya.
Jika dilihat secara fisik goa song Gentong berbeda dengan goa-goa yang ada di wilayah Tulungagung. Kebanyakan goa yang ada di wilayah Tulungagung merupakan goa buatan manusia yang digunakan sebagai tempat bersemedi. Goa Song Gentong merupakan goa yang berbeda, sebab goa ini terjadi secara alami dan bentuknya pun unik sebab terlihat memiliki sebuah ruangan yang bisa digunakan sebagai tempat tinggal. Letaknya pun terdapat agak tinggi dan agak tersembunyi sehingga selain dapat digunakan untuk berlindung dari cuaca juga dapat digunakan sebagai tempat berlindung dari serangan binatang buas.
Sebenarnya goa Song Gentong ini terdiri dari dua macam bagian yang masing-masing hanya berjarak 50 meter saja. Di kedua goa ini banyak sekali jejak-jejak arkeologis yang memiliki nilai besar dalam menguak asal-usul manusia dari sudut pandang sejarah. Akan tetapi sayangnya kebetuhan ekonomi yang kian mendesak membuat para pekerja marmer terus melakukan perburuan sehingga pada akhirnya menyebabkan runtuhnya sebagian goa Song Gentong. Dengan robohnya goa ini maka berarti hilanglah jejak prasejarah yang dimiliki Tulungagung.
Untungnya saat Pendekar Patah Hati melakukan penjelajahan untuk melihat letak rumah dari manusia purba yang bersamaan dengan rombongan dari Dharma Tyas Project masih dapat sedikit menemukan sisa-sisa fosl yang dimungkinkan merupakan bekas makanan dari manusia purba tersebut. Di lokasi yang sama beberapa waktu yang lalu juga telah diadakan eskavasi oleh tim dari UGM mengadakan eskavasi dan menemukan fosil dari Kuda Nil Purba dan tapir Purba. Dari adanya penemuan ini semakin jelas bahwa di lokasi sekitar goa Song Gentong ini dahulunya merupakan sebuah daerah yang berada dekat dengan sumber air.
Dharma Tyas Project sendiri merupakan sebuah perkumpulan yang mengkaji nilai filosofi fosil. Menurut Handaka salah seorang anggota Dharma Tyas Project mengatakan banyak nilai-nilai filosofi yang terkandung dalam fosil. Apablia dapat mengakajinya maka dapatlah kiranya nilai tersebut dijadikan sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupan di dalam dunia ini. Handaka atau yang akrab disapa dengan nama Kaka ini menambahkan bahwa di dalam fosil terdapat ayat-ayat alam yang penuh akan nilai filosofi.
Dalam jelajah kali ini Pendekar Patah Hati melihat betapa gunung di wilayah selatan Tulungagung telah banyak yang hancur karena terkena dampak penambangan marmer. Gunung-gunung itu dibelah untuk diambil batunya. Melihat pemandangan tersebut Pendekar Patah Hati merasa sangat menyesalkan apa yang dilakukan para penambng marmer tersebut. Karena sikapnya yang tidak peduli telah menghapuskan salah satu peninggalan arkeologis yang paling berharga. Dengan runtuhnya sebagian dari goa Song Gentong dapat diartikan bahwa mereka telah merusak sebuah hal yang sangat berharga dalam usaha untuk mengungkap asal-usul manusia.  Para penambang tersebut seharusnya dapat lebih arif dan bijaksana lagi sehingga mereka dapat memperlihatkan kepada anak cucu mereka goa yang menyimpan catatan prasearah yang ada di wilayah Tulungagung Selatan ini.

Untuk mengetahui bagaimana wujud Homo Wajakensis ini dapat mengunjungi musium daerah yang ada di wilayah selatan tulungagung atau tepatnya berada di Jalan Raya Boyolangu 4.  Sedang untuk fosilnya sendiri telah berada di Belanda. Yang ada di musium ini selain replika utuh dari sosok manusia purba dari jenis Homo Wajakensis juga terdapat replika tulang tengkorak dari Homo Wajakensis. Dari replika yang terdapat pada musium ini terlihat bahwa Homo Wajakensis lebih irip dengan kera jika dibandingkan dengan manusia modern. Meskipun begitu ada beberapa hal yang membedakan antara manusia purba jenis ini dengan primata jenis kera. Perbedaan  yang mendasar adalah manusia purba jenis ini sudh dapat berdiri dengan tegak serta telah mampu berburu meskipun dengan menggunakan alat yang sederhana.

Secara total bentuk dari manusia purba adalah sebagai berikut. Muka datar dan lebar, hidung lebar dan bagian mulut menonjol (maju), Dahinya agak miring dan diatas mata terdapat busur dahi yang nyat. Pipinya menonjol ke samping. Kapasitas otak mencapai 1300 cc. Berat badan dari 30 - 150 kg. Tinggi badan 130 - 210 cm. Jarak antara hidung dan mulut masih jauh, Perawakannya masih seperti kera akan tetapi sudah berdiri tegak