Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 November 2013

Sejarah Pondok PSM Magetan


Pondok Pesantren PSM (Pondok Sabilil Muttaqien) pada awalnya bernama Pondok Pesantren Takeran. Pondok ini didirikan oleh Kyai Hasan Ulama dengan dibantu oleh sahabatnya yang bernama Kyai Muhammad Ilyas. Keduanya merupakan tokoh yang sangat disegani oleh masyarakat Takeran pada waktu itu, dalam perkembangannya pondok pesantren ini mengalami pergantian nama. Terjadinya pergantian nama ini terjadi pada tahun 1943 ketika pondok dipegang oleh Kyai Imam Mursyid Mustaqien. Pada awal berdirinya Kyai hasan Ulama memberikan wasiat bagi siapa saja yang nyantri di pondok pesantren yang dia dirikan adapun wasiat yang diberikan oleh Kyai hasan Ulama adalah sebagai berikut.
1.      Ojo kepingin sugih, lan ojo wedi mlarat.
(Jangan berharap jadi orang kaya dan jangan takut hidup miskin). Wasiat di atas dimaksudkan supaya kita sebagai umat islam tidak terlalu memburu harta dan tidak juga meminta-minta jabatan.
2.      Pilih ngendi, sugih tanpo iman opo mlarat nanging iman.
(pilih mana, kaya tanpa iman apa miskin tetapi beriman).
3.      Ojo demen ngudi pengaruhing pribadi (hawa nafsu), kang ono diopeni kanti tenanan, ojo kesengsem gebyaring kadonyan, kanuragan lan pengawasan dudu tujuan. Topo ngrame lakonono.
Maksudnya, kita sebagai umat islam itu jangan menuruti hawa nafsu pada diri kita pribadi, bersyukurlah terhadap apa yang kita miliki sekarang ini jangan sampai terlena dengan gemerlapnya dunia ini. Kita sebagai umat islam harus selalu topo ngrame (dzikrullah) selalu mengingat Allah.
4.      Sumber bening ora bakal golek timbo.
(sumber yang bening tak akan pernah mencari timba). Maksudnya, dalam menjalani kehidupan kita tidak boleh hanya menyia-nyiakan waktu hanya untuk mencari jabatan. Akan tetapi, kalau kita diserahi tanggung jawab atas jabatan tertentu, amanat itu harus kita laksanakan.
5.      Ojo demen owah-owah tatanan poro sesepuh, wajibe mung ngopeni lan nglestareake.
Maksudnya, generasi penerus pondok pesantren dilarang merubah semua tatanan yang sudah ditetapkan oleh para sesepuh terdahulu, mereka hanya diwajibkan untuk merawat dan melestarikanya.
6.      Ojo demen nyunggi katoke mbahe, amal sholeh tindakno.
Maksudnya, generasi penerus itu dilarang bangga terhadap kakeknya atau orang tuanya yang menjadi seorang pejabat atau pun Kyai yang terpandang di masyarakat. Mereka tetap disuruh untuk menjalankan amal sholih.
7.      Nyawiji naliko nindakake kautaman, pisah ing dalem kemaksiatan, ing tembe bakal ono titi mangsane anak putu ono kang nemu emas sak jago gedhene, ananging iyo mung kandeg semono iku imane.
Maksudnya, kita sebagai umat islam disuruh untuk bersatu dalam melaksanakan perbuatan yang mulia (yang utama), dan menghindari segala perbuatan maksiat.
8.      Ora lewat anak putuku sing guyub rukun, dipodo tansah ngrameake masjid, tak pangestoni slamet dunyo akherat.
Artinya, tidak terlewatkan cucu-cucuku yang selalu menjaga kerukunan, ayo sama-sama meramaikan masjid, dijamin akan selamat dunia akhirat.
9.      Ojo kendhat tansah nindakake mujahadah taubat, koyo kang wis diparengake guru.
Maksudnya, generasi penerus disuruh untuk selalu melaksanakan mujahadah taubat, seperti yang telah diajarkan oleh para guru terdahulu.
Bukan hanya Kyai Hasan Ulama semata yang memiliki wasiat kepada para santri. Kyai Imam Mursyid Muttaqien selaku pendiri Pondok PSM juga memiliki wasiat kepada para santri. Adapun wasiat yang diberikan oleh sang kyai adalah sebagai berikut.
1.      Warga PSM kudu netepi mujahadah.
(warga PSM harus melaksanakan mujahadah)
2.      Warga PSM kudu ambelani ke PSM-ane.
( warga PSM itu harus menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar)
3.      Warga PSM kudu netepi komando akherat.
( warga PSM jika mendengar adzan harus segera pergi ke masjid)
4.      Warga PSM kudu naati amar-amar PSM.
(warga PSM harus menaati perintah-perintah pondok PSM)
5.      Warga PSM kudu bersatu rukun manunggal.
(warga PSM itu harus bersatu menjadi satu)
6.      Warga PSM kudu wani ambrantas hawa nafsu.
(warga PSM itu harus berani memerangi hawa nafsunya)
7.      Warga PSM pirantine AL-Qur’an, tasbih, sajadah, dene gamane wesi aji (pusoko).
(warga PSM itu paralatanya yaitu, AL-Qur’an, tasbih, sajadah. Sedangkan sejatanya adalah wesi aji (keris)
8.      Warga PSM ora keno njajal kabisane.
9.      Warga PSM marang lelakon iku kudu ditekakake marang kasampurnan.
(warga PSM itu apabila menjalankan sebuah usaha misalnya menuntut ilmu harus dilakukan dengan sungguh-sungguh hingga mencapai hasil yang sempurna)
10.  Warga PSM ora keno mberkahake kabisane.
11.  Warga PSM yen ono kepentingan cukup diwacakake sak kalimat.
(warga PSM apabila menghadapi sebuah masalah atau pun kepentingan cukup dibacakan satu kalimat yaitu lafal “LAA ILAAHA ILLALLAH)”
12.  Warga PSM yen kepergok sambate……………..pimpinane.
(dulu warga PSM ini dikit-dikit  mengeluh kepada Kyai Imam Mursyid Muttaqien)
13.  Gaman wesi aji yen ono gawe dihunus.
(senjata yang dimiliki tidak boleh digunakan untuk pamer-pemeran, akan tetapi jika ada kaharusan untuk menggunakan baru saja dihunus)
14.  Warga PSM kudu biso iklas marang amale kabeh.
(warga PSM itu harus dapat ikhlas terhadap segala amalnya)
15.  Warga PSM sing wis insaf, mongko durung dibengat kudu dilatih.
(warga PSM yang sudah insaf akan tetapi belum dibaiat oleh sang guru harus dilatih terlebih dahulu)a
16.  Warga PSM ojo mamang-mamang, asal taat ke PSM-ane menowo sekarat pati, senajan durung dibengat INSYAALLAH, gusti Allah piambak kang bakal nulungi.
(warga PSM itu harus yakin tidak boleh ragu-ragu akan keselamatanya di dunia maupun akhiratnya, yang terpenting yaitu melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dengan itu, insyallah Allah sendiri yang menolong mereka meskipun mereka belum dibaiat)
17.  Warga PSM kudu gelem dadi jagae PSM.
(warga PSM harus mau menjadi benteng atau pembela PSM)
18.  Warga PSM yen diomongi kebecikan kudu digugu senajan sing omong kuwi ora shalat.
(warga PSM itu harus menuruti terhadap semua omongan atau nasihat yang baik meskipun orang yang bicara itu tidak melakukan shalat). Salah satu santri PSM mengatakan bahwa wasiat ini ibarat “emas yang keluar dari mulut anjing pun akan tetap berupa emas”. Selain daripada itu wasiat ini juga sesuai dengan hadits Nabi “undhur maa qaala walaa tandhur manqaala”.
Wasiat-wasiat itulah yang menjadi sebuah pembelajaran dalam menjalani kehidupan ini, termasuk di dalamnya yaitu menyangkut masalah pendidikan akhlak di pondok PSM. Disamping itu semua, para Santri juga diajari beberapa kitab kuning yang di dalamnya membahas tentang masalah akhlak yaitu: kitab Wasiatul Mustafa, Taisirul Khalaq, Nashoikhul ‘ibad, dan Akhlaqulil Banin. Semua ini merupakan sebuah sistem pembelajaran akhlak pada pondok pesantren Sabilil Muttaqien (PSM).
Sejarah telah mencatat bahwa Pondok PSM, sesungguhnya memiliki kisah masa lalu yang sungguh miris dan memilukan hati. Bagaimana tidak,  pada waktu itu ketika pondok dipimpin oleh Kyai Imam Mursyid Muttaqien terjadilah peristiwa kelam yang pernah menimpa negeri ini. Pada awal kemerdekaan itu tercatat ratusan ribu nyawa manusia melayang akibat dari peristiwa pemberontakan Partai Komunis Indonesa (PKI)Awal mula pemberontakan PKI ini dilancarkan di daerah Madiun pada tahun 1948, yang ketika itu dipimpin oleh Muso dan Amir  Syafrudin. Banyak tokoh-tokoh agama yang ikut menjadi korban keganasan dan kebiadaban PKI ini. Tak terkecuali PSM, mereka sangat berduka karena kehilangan satu sosok sesepuh PSM yang paling dihormati oleh warganya, yaitu Kyai Imam Mursyid Muttaqien.
PKI dengan ideologi sosialis-komunisnya sangat membenci kepada slam pada umumnya, dan kepada para ulama dan kyai pada khususnya. Sebab, mereka itulah yang oleh PKI tergolong sebagai kelompok yang berusaha menghalangi misi mereka dalam menyebarkan paham komunisme di Indonesia. Islam sangat membenci komunisme yang bersikap atheis dan tak mengenal adanya peran Tuhan dalam kehidupan manusia. Bagi mereka, Tuhan adalah akal pikiran mereka, dan oleh sebab kemampuan berpikir merekalah yang menjadikan mereka berkuasa. Oleh karena itu, umat Islam berupaya keras untuk membendung aksi komunis yang dilancarkan oleh partai ini karena khawatir aqidah yang ditanam oleh umat muslim di Indonesia ternodai oleh model pemikiran komunisme yang anti tuhan.
Pada awalnya, pondok PSM menjadi target pengepungan basis PKI. Menurut beberapa cerita yang diungkapkan narasumber, dikisahkan bahwa suatu ketika, pesantren mendapat sebuah kabar tentang munculnya paham komunisme yang tengah menyebar di Indonesia. Kemudian santri PSM langsung was-was dan siap siaga untuk menghadapi kemungkinan yang akan timbul. Kebetulan saja, basis pertama pemberontakan PKI berada di Madiun pada tahun 1948. Sehingga para warga PSM mengambil inisiatif untuk mengadakan penjagaan rutin (ronda bersama) siang dan malam dengan membentuk pagar betis di setiap sudut pondok.
Pada waktu itu PSM masih berada pada masa pembaharuan dan modernisasi yang diprakarsai oleh Kyai Imam Mursyid Muttaqien, menjadi target sasaran pemberontakan PKI ini. Kyai Imam Mursyid selaku pemimpin dan mursyid PSM turut menjadi korban keganasan PKI. Alkisah, pada hari jumat 18 september 1948, beliau didatangi oleh para tokoh PKI. Mereka sengaja berkunjung ke PSM untuk mengajak Kyai Imam Mursyid agar ikut bermusyawarah dalam rangka pembentukan Republik Soviet Indonesia. Kedatangan mereka disambut rasa cemas dan khawatir oleh masing-masing santrinya. Entah karena apa, Kyai Imam Mursyid menyetujui dan bersedia ikut rombongan PKI.
Namun tak disangka sama sekali, kepergian beliau merupakan kepergian untuk selama-lamanya dan tak akan pernah kembali. Apa yang dikhawatirkan santrinya benar-benar terbukti. Hingga saat ini, jenazah beliau tidak pernah ditemukan, walaupun menurut beberapa informasi bahwa para korban PKI teridentifikasi dibuang di beberapa sumur, seperti sumur yang terletak di desa Soco Kecamatan Bendo misalnya. Setelah diupayakan sepenuhnya oleh tim pencari korban kebiadaban PKI dengan membongkar sumur di desa Soco tersebut, namun jenazah Kyai Imam Mursyid tetap tidak kunjung ditemukan. Dari daftar korban yang telah ditemukan, ternyata nama Kyai Imam Mursyid Muttaqien tidak tercantum. Hal inilah yang menyebabkan santri PSM hingga sekarang masih percaya bahwa beliau kemungkinan masih hidup, namun entah dimana keberadaannya.

Rabu, 23 Oktober 2013

Penemuan Situs Baru


Goa Pasir yang berada di Desa Junjung Kecamatan Sumbergempol diyakini masih banyak menyimpan sejumlah peninggalan bersejarah. Hal ini terlihat dengan adanya kegiatan penggalian situs di kawasan tersebut. Kawasan yang dijadikan penggalian ini terletak di bawah dari goa pasir. Tempat yang dahulunya biasa dijadikan tempat berkemah serta melakukan upacara saat peringatan hari besar nasional tersebut dibuat galian-galian dengan kedalaman antara 0,5 meter sampai dengan 1 meter.
Penggalian ini dilakukan oleh para arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Museum Trowulan. Penggalian yang dimulai sejak tanggal 13 Mei 2013 dan diakhiri pada tanggal 21 Mei ini merupakan tindak langsung dari penemuan sebelumnya. Temuan pertama situs ini terjadi pada tahun 2010 lalu. Pada tahun tersebut saat akan mendirikan panggung untuk sebuah acara pihak panitia menemukan sususan batuan kuno. Karena merasa batu-batuan tersebut diyakini masih ada kaitannya dengan situs-situs yang ada di goa pasir ini akhirnya pembangunan panggung acara tersebut dihentikan dan dipindah ketempat lain.
Ketika Posmo mendatangi lokasi penggalian tersebut pada minggu (19/5) nampak para pekera dan arkeolog masih sibuk bekerja. Mereka melakukan penggalian dan pengukuran untuk menentukan batas-batas dari situs yang diketemukan tersebut. Namun berkali-kali melakukan penggalian batas wilayah yang diinginkan masih belum di dapat. Menyikapi hal tersebut para arkeolog menginginkan adanya keputusan dari dinas-dinas terkait untuk memberikan izin agar dilakukan penggalian secara menyeluruh. Sehingga dapat diketahui data-data yang lebih lengkap tentang situs tersebut.
Para arkeolog yang terlibat dalam penggalian tersebut sejumlah sebelas orang arkeolog dan semuanya berasal dari Balai pelestarian cagar budaya (BPCB) Museum Trowulan Mojekerto, dari penemuan bekas bangunan tersebut ada dugaan bahwa tempat tersebut digunakan oleh para Resi untuk  berkumpul ketika akan  semedi di goa pasir. Bangunan tersebut diperkirakan berasal dari zaman Majapahit atau sekitar abad ke 14 sampai ke abad 16. Dugaan mengenai situs ini merupakan sebuah bangunan bekas tempat tinggal karena ditempat ini juga ditemukan artefak dan batu bata yang bercirikan khas dari kerajaan Majapahit.
Hal senada juga  diungkapkan oleh Nugroho Hardjo Lukito selaku arkeolog sekaligus ketua Tim Trowulan. Perkiraan bahwa tempat ini digunakan tempat para resi berkumpul sebelum melakukan persemedian diperkuat dengan pernah ditemukannya umpak di daerah ini. Dengan adanya umpak dapat dipastikan ada sebuah atap bangunan dan dari adanya atap bangunan tersebut pastinya ada sesuatu yang dilindungi dibawahnya.
Adanya anggapan ini didasarkan pada beberapa relief yang ada dan pernah ditemukan di daerah ini. Relief yang digunakan patokan bahwa tempat tersebut berasal dari era Majapahit adalah sebuah relief yang bergambar bunga teratai atau padma yang belum mekar. Menurut Nugroho relief yang demikian ini hampir selalu ditemukan pada peninggalan era Majapahit dari abad ke-14 hingga ke abad ke-16.
Menurut perkiraan sementara situs bangunan yang baru ditemukan ini memiliki hubungan yang erat dengan goa pasir sendiri. Goa pasir ini sendiri bukanlah sebuah goa alam melainkan merupakan sebuah goa buatan manusia dengan bentuk menyerupai persegi panjang dan tak terlalu dalam. Goa ini diperkirakan untuk melakukan persemedian dan digunakan pula melakukan penyucian diri.
Anggapan mengenai goa Pasir yang sebagai tempat penyuscian diri ini menurutnya terlihat dari relief-relief yang terdapat di daerah ini. Relief-relief yang tersebar di kawasan goa pasir ini apabila ditafsirkan memiliki makna pembersihan diri ataupun pengruwatan diri. Selain itu ditambahkan pula olehnya bahwa situs goa pasir ini juga dimungkinkan memiliki keterkaitan dengan situs-situs lain seperti goa selomangkleng, candi dadi, dan goa tritis. Situs-situs ini treletak dirangkaian gunung dimana goa pasir ini berada.
Dia juga melanjutkan, dengan banyaknya artefak dan barang bersejarah lainnya yang ditemukan di area goa pasir ini secara tidak langsung sangat bermanfaat bagi pengembangan goa pasir dalam hal pariwisata baik  dala, bidang budaya maupun religi. Berkaitan dengan hal tersebut, pihaknya akan meminta agar pemkab Tulungagung dan warga sekitar goa pasir tidak melakukan pembangunan di area goa pasir, terutama ditempat bekas bangunan Resi yang saat ini pondasi bangunannya telah ditemukan. “Hal ini karena diperkirakan masih ada barang bersejarah lainnya yang saat ini masih terkubur di area goa pasir,”katanya.

Sejarah Surabaya

Tanggal 31 mei ngarep iki Surabaya bakal ngrayakake ulang taune kang kaping 720. Meh kabeh wong padha ngerti yen saben tanggal 31 mei kasebut minangka tanggal madege kutha Surabaya. Ananging isih sethithik banget kang mangerteni kepriye sejarahe tanggal kasebut dipengeti minangka tanggal lairke kutha Surabaya. Saliyane iku uga akeh sing durung ngerti yen sadurunge tanggal 31 mei kuwi kutha Surabaya nate ngrayakake ulang taune nalika tanggal 1 April. Ngenani kepriye sejarahe tanggal 31 Mei kok bisa ditetepake minangka tanggal laire Surabaya lan apa sing njalari dumadine owah-owahan ulang taune Surabaya saka tanggal 1 April kaganti dening tanggal 31 Mei kuwi bakal diandharake ing ngisor iki.

Yen ngomongake kepriye mula buka dumadine kutha Surabaya mesthine ora bisa nglalekake jeneng Ujunggaluh. Jeneng Ujunggaluh kang ing tembe mburine ngalih jeneng dadi Surabaya iki wis kasebut ing sawijining prasasti kang diwetokake nalika jamane Airlangga. Prasasti kang ing njerone tinulis jeneng  Ujunggaluh iki diwetokake nalika taun 959-1037 M

Ing prasasti Kelagen dijelasake ana ngendi papan dumununge Ujungaluh. Manut isine prasasti Kelagen kang ngenani papan dumununge Ujunggaluh iku bisa kaperang dadi telu yaiku. Kapisan Ujunggaluh dumunung ana ing kali Brantas kang miline ngalor lan banjur nyabang dadi telu utawa kanthi cetha bisa sinebut yen Ujunggaluh iku dumunung ana ing kali Surabaya. Kapindho, ujunggaluh iku dumunung ana ing hilire kali Surabaya sawise ngliwati Dusun Kelagen, utawa bisa sinebut yen Ujunggaluh iku dumunung ana papan paling lor dhewe saka dusun Kelagen. Dene kang kaping telu utawa kang pungkasan Ujunggaluh iku minangka sawijining pelabuhan Nusantara.

Dene cathethan liya kang nyebutake sejarah Surabaya uga tinemu ing prasasti Trowulan II. Ing prasasti iki wis tinulis jeneng Surabaya. Prasasti iki dhewe nduweni angka taun 1358. Ing prasasti kasebut disebutake yen Surabaya ngono sawijining desa kang ana ing kakuwasane Majapait lan pikantuk jejibahan kanggo menehi layanan nyebrangake pawongan kang pengin nyebrang ngliwati Kali Brantas lan Bengawan Solo. Kanggo ngayahi ejibahan iki Surabaya ora dhewe nanging uga dieloni dening 40 desa liyane. Papan kanggo nyebrangake pawongan iki dipercaya ana sawijining dhaerah sing saiki jenenge owah dadi Kampung Surabayan kang mapan ana ing dhaerah Tegalsari. Saka anane katrangan iki bisa didudut yen Ujunggaluh iku ana ing saurite Kali Surabaya lan Kali Surabaya iki dhewe dumunung ana ing kutha Surabaya.

Cathethan luwih jangkep ngenani Ujunggaluh iki ana ing sawijining cathethan kang ditulis dening Chau-Ju-Kua. Ing cathethane kang kanthi irah-irahan Chu-Fan-Chi lan karipta rikala taun 1200 ngandharake yen Ujunggaluh iku minangka sawijining dhaerah kang ngasilake uyah teluk, wedhus gibas, lan manuk kakak tua. Saka cathethan iki bisa didudut yen Uunggaluh iki mapan ora adoh saka pesisir. Kanthi nggabungake cathethane Chasasti-pru-Ju-Kua lan prasasti-prasasti kang ana bisa diwenehi dudutan yen Ujunggaluh iki pancen bener-bener ana Muarane Kali Surabaya sarta papan kasebut pancen nyata ana ing Surabaya.

Banjur yen ngomong ngenani saka ngendi asal-usule kutha surabaya samesthine bisa diwawas saka sejarah madege kerajaan Majapahit. Sejarah mula bukane Surabaya kasebut diwiwti nalika tekane Prajurit Tar-tar saka negeri cina utusane Khubilai Khan teka ing bumi Nusantara. Tekane praurit mau menyang bumi nusantara nduweni ancas bakal ngukum raja singasari kang pungkasan yaiku Prabu Singasari sing pungkasan. Anane tentara cina mau nduweni ancas bakal ngukum raja Singasari mau jalaran Prabu Singasari sing jumeneng nalika kuwi yaiku Prabu Kertanegara nulak tunduk marang negara Cina. Prajurit Cina kang bakal ngukum Prabu Kertanegara iki dipimpin dening panglima sing cacahe ana telu. Para panglima kang mimpin prajurit lan bakal ngukum Prabu Kertanegara yaiku Shihpi, Ike Mese lan Kau Hsing.

Nalika wis teka ing bumi nusantara iki para panglima mau banjur mecah pasukane dadi loro yaiku pasukan laut lan pasukan darat. Pasukan laut dipimpin dening Shihpi dene pasukan darat dipimpin dening Mese lan Hsing kan wektu iku mapan ana ing sawiining dhaerah kang nduweni jeneng Pa-Tsieh-Kan. Sawise kapecah dadi loro iki banjur pasukan mau mlaku nggoleki papan dumununge Kerajaan Singasari.

Ing tengah dalan yaiku nalika teka ing dhaerah Sugalu, Shihpi mrintahake saperangan saka praurite amrih gabung marang pasukan liyane kang dipimpin dening Mese lan Hsing. Pinuju wektu iku pasukane klawan Raden Wijaya. Pinuju ketemu pasukane Shihpi iki Raden Wijaya kandha yen tunduk marang tentara Cina. Nanging, perlu kawuninga iki mung siasat kang ditindakake Raden Wijaya. Wektu kandha yen tunduk klawan tentara cina kuwi raden Wijaya kandha menawa pengin nelukake Pa-Tsieh-Kan para prajurit Cina mau kudu nelukake krajaan Kadiri luwih dhisik. Kerajaan Kediri wektu iku dipimpin dening sawijining raja kanthi jeneng Prabu Jayakatwang.

Prabu Jayakatwang iki yaiku sawijining ratu kang wis kasil ngasorake Prabu Kertanegara lumantar perang. Ya merga perang lan gugure Prabu Kertanegara iki kang nyebabake Kerajaan Singasari ngalami pralaya. Cekake crita para tentara cina mau sarujuk bakal nelukake kerajaan kadiri kanthi pangarep-arep bakal bisa nguwasani Pa-Tsieh-Kan. Kanthi gabungan tentarane raden Wijaya lan tentara cina wekasane Jayakatwang kasil dikalahake lan Kerajaan Kadiri wekasane padha-padha nasibe karo kerajaan Singasari yaiku ngalami pralaya.

Sawise kasil ngasorake kerajaan kadiri kang dipimpin Jayakatwang para praurit Cina mau keladuk rasa senenge. Para praurit mau nggelar pesta kanthi mabuk-mabukan meruhi kahanan kang kaya mangekene digunakake dening Raden Wijaya kanthi sabeck-becike. Rden Wijaya nyerang para prajurit cina kang lagi seneng-seneng iku babar pisan ora ngira bakal oleh serangan saka Raden Wijaya. Amarga ora siyaga praurit cina mau pungkasane kalah lan sabanjure oncat saka bumi nusantara.

Kedadeyan serangane Raden Wijaya marang prajurit cina iki mau dumadi nalika dina Minggu tanggal 31 Mei 1293. Wiwit kedadeyan kuwi jeneng Ujunggaluh diganti dening Raden Wijaya dadi Çurabaya. Jeneng Çurabaya nduweni teges wani ngadhepi bebaya. Sabanjure Çurabaya ana ing kakuwasane Kerajaan Majapahit kang didegake dening Raden Wijaya. Gilir gumanti panguwasa kang mrentah kerajaan Majapahit uga njalari Çurabaya dadi sawijining dhaerah kang tansaya rame.

Papan kanggo nyerang tentara cina iki mau ana ing sawijining pelabuhan lan papan iku mau tuwuh dadi pelabuhan nusantara kang rame banget. Puncake nalika Kerajaan Majapahit dipimpin dening Prabu Hayam Wuruk papan kasebut ramene ora jamak. Emane sawise Prabu Hayam Wuruk seda Mjapahit ora nduweni raja kang prigel anggene mrentah. Wekasane merga nduweni raa kang prigel anggone mrentah Maapahit ngalami pralaya sawise oleh serangan saka kasultanan Demak.

Otomatis merga Majapahit ngalami pralaya Çurabaya dadi bawahane Kasultanan Demak. Amarga Kasultanan Demak weruh kaluwihane Çurabaya tinimbang dhaerah liya-liyane mula Kasultanan Demak menehi keistimewaan kanggo Çurabaya amrih ngelola rumah tanggane. Mula saka kuwi ing Çurabaya banjur didegake sawiining kraton kang aran kraton Çurabaya. Nanging emane kraton iki ora langgeng jalaran kraton iki diserang dening kasultanan Mataram ing sangisore pimpinan Sultan Agung. Sisa-sisa kraton Surabaya bisa diwawas ana ing kampung kraton kang ana ing dhaerah Keramat lan pendhapa Kanoman kang saiki dadi taman budaya.

Pancen prastawa serangane Raden Wijaya marang tentara cina iku dumadi rikala tanggal 31 Mei 1293, nanging tanggal 31 Mei lagi ditetepake minangka tanggal laire Surabaya iku lagi diresmikake nalika tanggal 18 Maret 1975 kanthi adhedhasar surat ketetapan kang ditokake dening Soeparno minangka Wali Kota Surabaya kanthi nomor surat 64/WK/75.

Sadurunge tanggal 31 Mei ditetepake minangka tanggal laire Surabaya. kutha Surabaya ngrayakake ulang taune saben-saben tanggal 1 April. Anane kedadeyan kasebut ora bisa uwal saka campur tangane pamrentah Belanda kang ngganti jeneng Surabaya dadi Gumentee Soerabaia. Owah-owahan jeneng kasebut dumadi nalika tanggal 1 April 1906 lan owah-owahan kasebut nduweni ancas amrih pamrentah Belanda luwih kepenak anggone ngatur keamanan minangka masyarakat penjajah. Kanthi kaiiring lumakune wektu apa maneh Indonesia wis bali merdhika mula tanggal laire Surabaya dibalekake maneh dadi tanggal 31 Mei kanthi pangajab bisaa nduweni semangat kayadene semangate Raden Wijaya sing wani ngusir tentara Cina kang bakal njajah bumi pertiwi.

*) Maneka Sumber